Rabu, 16 Juli 2014

MENGIKHLASKAN SEGALA PERJUANGAN



Sebuah pengalaman yang tak terlupakan ketika tergerak untuk mendirikan sekolah untuk bisa menyelesaikan masalah pendidikan yang ada di sekitar. Sungguh saya sangat beruntung bisa menyelesaikan pendidikan hingga lulus S1 pendidikan dengan banyak bantuan dari orang tua asuh dan beasiswa karena itulah saya tergerak untuk bisa mengamalkan ilmu yang didapat agar orang-orang yang telah membantu bisa tertular amalku tanpa mengurangi takaran.
Pindah kesini pada tahun 1997 dan Tinggal di daerah entah berantah yang tidak akui oleh pemerintah yaitu Kp. Bedeng Sepat Rorotan. Dengan banyak penduduknya berprofesi sebagai  pemulung, buruh dan lapak-lapak besi membuat hidup disini begitu keras bahkan ada beberapa yang berprofesi sebagai maling, sehingga banyak laporan dari kampung sebelah bahwa maling dan kutu loncat selalu hilang di kp. Bedeng ini. Bahkan pernah terjadi penggerebekan di kampung ini dan alhamdullilah setelah kejadian tersebut baru kampung ini menjadi sedikit tenang. Karena waktu itu banyak pemulung maka didirikanlah sekolah dasar pada tahun 2000 oleh Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) namun karena manajemen yang berantakan maka sekolah itu bubar tanpa konfirmasi pada tahun 2007.
Sungguh pengalaman yang berkesan ketika baru lulus kuliah diakhir tahun 2006 dan sedang mencari pekerjaan. Terjadilah banjir hingga 2 meter pada bulan februari 2007 yang tadinya menjadi salah satu pengungsi karena desakan dari warga akhirnya harus menjadi relawan dadakan dengan menghubungi beberapa teman dan donatur agar dapat membantu korban banjir di daerah ini. Pasca banjir bantuan dari portal infaq salah satu yang konsen terhadap pendidikan memberikan bantuan pasca banjir namun diteliti rupanya banyak sekali anak usia sd, yang tidak bersekolah karena sekolah pemulung yang tiba-tiba bubar tanpa kabar. Tergerak untuk membantu  permasalahan pendidikan disekitar rumah, padahal waktu itu ada tawaran untuk menjadi manajer BMT/Koperasi. Akhirnya tawaran untuk mendirikan dan mengembangkan pendidikan di sini dengan membuat Yayasan Darut Tauhid dengan pengurus hanya saya sebagai sekum dan bapak syamsudin sebagai ketua yayasannya. Akhirnya dengan persetujuan orang tua agar bisa membantu dan mendirikan sekolah disini dengan amanah bahwa perjuangan sesungguhnya adalah ketika sekolah itu mapan mendapat bantuan dari pemerintah dan hati-hati seperti yang terjadi pada sahabat bapak yaitu guru, kepsek saya dan pendiri di yayasan Al M*h*j*r*n di berjuang mendirikan sekolah di sana hingga besar berkembang namun dengan ada guru yang ambisi akhirnya harus keluar dengan banyak fitnah terhadapnya. Namun saya nafikan sebagai konsekuensi perjuangan, berujar “kalo saya sebagai alat, selama untuk kebaikan tak masalah”. Maka mendirikan sekolah tidaklah mudah dengan gedung ala kadarnya surat surat yang tak ada maka aka sulit bergerak maka karena niatan karena Allah lah agar anak anak di sini bisa terselamatkan pendidikannya karena pendidikan negeri begitu jauh dan perekonomianlah yang membuat anak di sini banyak yang tidak bersekolah. Maka didirikanlah sekolah yang gratis agar anak-anak di sini tetap bersekolah dengan bantuan dana dan beasiswa dari donatur saat itu sangat sulit mendapat bantuan BOS dari pemerintah karena tidak mendapat persetujuan dari lurah waktu itu.
Sungguh pengalaman yang berkesan ketika beberapa kali di tolak oleh lurah karena keberadaannya, hanya doa yang bisa menyelesaikan masalah ini. Dan tanpa diperkirakan datangnya bapak Gubernur DKI Fauzi Bowo waktu itu menyelesaikan permasalahan 4 tahunan dengan pendekatan personal akhirnya sekolah ini bisa di izinkan bahkan membantu pembangunan dan yang tak terduga ketika meminta bantuan bangku bekas kesudin yang didapatkan tak terkira malah mendapat bantuan BOS karena sudah dijanjikan oleh gubernur. Sungguh perjuangan itu tak didapat bukan hanya kerja keras tapi juga doa-doa  khusunya saat itikaf dibulan romadhan.
Sungguh pengorbanan itu begitu indah ketika harus mengeluarkan uang sendiri walaupun pribadi tidak punya. Bahkan mengorban gaji-gaji bulanan agar guru-guru bisa didahulukan mendapatkan gaji dari pada saya sendiri. Bahkan ketika bantuan tak kunjung datang atau dana bos tak kunjung cair direlakan dipinjamkan dari rekening pribadi agar guru–guru bisa mendapatkan haknya terlebih dahulu. Pada saat romadhan adalah saat yang berat selain gaji guru juga harus mendapat Tunjangan Hari Raya (THR) memikirkan bagaimana bisa diakhir masuk guru mendapatkannya, dikorbankan dengan meminta bantuan kepada donatur dengan kadang bolak balik ke Blok M atau senayan agar guru guru mendapatkan THRnya, sehingga mengorbankan ibadah ibadah sunah dibulan romadhan agar mereka mendapatkan haknya. Pengalaman yang tak terkira bagaimana bangunan yang alakadarnya akhirnya bisa terwujud lengkap dengan 7 ruang kelas 1 ruang perpustakaan 1 ruang kepala sekolah karena selain bantuan dari perusahaan disebelah juga meminta banyak prosposal ke donatur donatur.
Namun segala perjuangan itu akhirnya harus diikhlaskan karena niat mencari dan melengkapi segala perlengkapan sekolah adalah bagian dari ibadah agar siapapun bisa menggunakan untuk ibadah dan pendidikan sehingga amal kita tak terhenti.

Sabtu, 26 April 2014

EKSKUL SILAT SDI DT KEMBALI MENDAPATKAN JUARA DI PERTANDINGAN SILAT PADA MILAD ASBD KE 44



Sekolah Dasar Islam Darut Tauhid mempertimbangkan minat, bakat, hobi siswa yang sangat bervariasi. Bukan hanya untuk menggapai prestasi akademik namun juga prestasi olahraga. Memperhatikan Hobi siswa salah satunya adalah pembinaan prestasi olah raga. Oleh karena itulah SDI DT mengadakan berbagai kegiatan ekstrakulikuler diantaranya Saifudin Zuhri yang melatih Ekskul Silat Al Azhar Bela Diri dari anak kelas 3-6. 

Kegiatan pertandingan silat sudah kita ikuti selama 2 kali ini. Tahun lalu kita mendapat juara 1  tiga anak dan juara 3 satu anak. Pada pertandingan silat kali yaitu pertandingan silat  Milad ASBD ke 44 di GOR Ciracas pada  tanggal 17-20 April 2014, yang dihadiri 850 peserta yang mewakili perguruan silat dari perwakilan Jabotabek, Banten dan Jawa Barat. Juga ada beberapa perwakilan dari Negara Amerika, Jerman dan Afrika mengikuti pertandingan ini. Juga adanya pembagian kelas pertandingan dari Kelas A–Q.  Alhamdullilah perwakilan SDI DT yang diutus dari 7 anak yang mendapat gelar juara sebanyak 5 anak rinciannya yaitu 2 emas, 1 perak dan 2 perunggu.
Sebenarnya hampir saja kita tidak bisa mengikuti pertandingan  silat ini. Dikarenakan tersendatnya dana operasional sekolah (BOS) yang tertahan hingga 4 bulan (Januari-April 2014) sehingga kita tidak mempunyai operasional untuk kegiatan-kegiatan sekolah apalagi kegiatan ekskul. Karena sekolah kita hanya mengandalkan dana dari pemerintah itu tanpa meminta SPP dari siswa karena memang sebagian besar siswa kita termasuk dhuafa. Ini berimbas dengan pembayaran gaji dan honor pelatih ekskul yang tertunda selama itu. Walaupun begitu kegiatan sekolah maupun ekskul-ekskul tetap berjalan. Disaat mendekati pertandingan kita sama sekali tidak mempunyai uang untuk membiayai pentandingan silat itu. Maka untuk mengurangi beban sekolah, anak silat memohon bantuannya dari teman teman dengan ngecrek dari kelas ke kelas untuk membantu biaya konsumsi disaat pertandingan disana. Selebihnya meminjam sana sini agar anak silat bisa mengikuti pertandingan itu. Dengan segala keterbatasan dana kita kegiatan itu tetap berjalan dengan semangat tinggi.

Pertandingan yang cukup jauh di GOR Ciracas maka solusinya kita harus mencari penginapan selama 3 hari disekitar itu karena kalau pulang balik kita tidak punya dana untuk transportasinya, maka menyewalah 1 kontrakan yang di isi 7 siswa, 1 guru dan 1 pelatih, agar kita bisa maksimal persiapannya sedangkan biaya konsumsi di dapat dari hasil bantuan dari teman-temannya.
Pertandingan cukup meriah di hadiri 850 peserta dari perwakilan Jabotabek, Banten, Jawa Barat juga Amerika, Jerman dan Afrika. Anak-anak mengikuti pertandingan dengan semangat dari beberapa kelas kita mendapat mendali 2 emas, 1 perak dan 1 perunggu. Yang menjadi juara umum dari SDN Pulo 07 Jakarta Selatan karena mengirim banyak perwakilannya. Tapi dengan begitu hampir seluruh anak silat yang mengikuti mendapatkan juara di kelasnya. Walaupun dengan segala keterbatasan kita tetap semangat untuk berprestasi di berbagai perlombaan maupun kejuaraan agar siswa sekolah ini bukan hanya ini berprestasi secara akademik juga dalam bidang-bidang lain agar bisa menjadi modal life skill di kemudian hari.
Sehingga SDI Darut Tauhid telah mengkoleksi berbagai penghargaan juara diantaranya Juara Futsal For Humanity 2008, Juara II Mendongeng Tingkat Jabodetabek Tahun 2009, Juara I Pramuka Penggalang Lomba Lintas Budaya Pesisir (LLBP) Tahun 2009, Juara Harapan II Pramuka Siaga Putra Lomba Ketangkasan Siaga (LKS) Tingkat Kecamatan Desember 2010,  Juara I Pramuka Siaga Putri Lomba Ketangkasan Siaga (LKS) Tingkat Kecamatan Desember 2010, Juara Umum Lomba Ketangkasan Siaga, Juara I Lomba Marathon Otba Se Jabodetabek tahun 2011, Juara I Lomba Futsal for Humanity 28 Mei 2011, Juara III Futsal Tk. SD se Rorotan tahun 2012, Juara I Lomba Kaligrafi Loketa se Kecamatan Cilincing September 2012, Juara III Pramuka Penggalang Putra Lomba Lintas Budaya Pesisir  Februari 2013 dan 10 Besar Lomba Olimpiade Sains Nasional Februari 2013, Juara 1 untuk Kategori A, Juara 1 untuk Kategori B dan Juara 1 untuk Kategori C pertandingan Silat ASBD ke 43 Tahun 2013 dan terakhir mendapat mendali 2 emas, 1 perak dan 2 perunggu.
Ini membuktikan walaupun sekolah gratis dan dengan segala keterbatasan bukan berarti sekolah tidak mementingkan mutu pengajaran maupun pembinaan ekstrakulikuler, ini dibuktikan dengan banyaknya ekskul penunjang di sekolah ini yaitu diantaranya ekskul qosidah, marawis, tari saman, pramuka, dokter kecil, komputer, silat dan bimbingan baca qur’an. Juga ditambah mulok berupa tahsin, tahfidz, akhlak dan bahasa arab. Seluruh kegiatan ini untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ini.
Semua perjuangan ini menjadi sekolah yang berprestasi dengan doa dan bantuan banyak pihak. Semoga Allah melimpahkan keberkahannya kepada semua pihak yang telah membantu keberadaan sekolah ini dan menjadi amal baik yang menjadi pemberat di akhirat nanti. Amin

Rabu, 29 Januari 2014

TETAP SEMANGAT MENGAJAR DAN BELAJAR WALAU BANJIR LAGI



Banjir yang melanda ibukota Jakarta, juga terkena hingga ke daerah Kampung Kasepatan, Rorotan merupakan salah satu pemukiman warga yang dilanda banjir hingga ketinggian 2 meter. Sebanyak 450 KK atau 1.600 jiwa mengungsi ke lokasi yang aman dari banjir. Dan juga daerah lain sekitarnya yaitu daerah Kp. Bedeng, Kp. Sawah, dan Kp. Rawamalang yang merupakan tempat tinggal wali murid SDI Darut Tauhid. Banjir ini dikarenakan hujan deras diikuti banjir yang mengguyur Ibukota Jakarta Jumat (17/1/2014) hingga sekarang (28/1/2014), musibah banjir ini menyisakan banyak masalah. Selain banyak warga yang rumahnya menjadi korban genangan dan luapan air, kegiatan belajar mengajar di SDI Darut Tauhid terhambat kegiatan belajar mengajarnya karena sekolah sebenarnya tidak libur. Namun karena siswa sedang kebanjiran, sehingga sejak Jumat tak ada kegiatan belajar mengajar hingga hari kamis (23/1/2014) baru kegiatan belajar mengajar dimulai kembali.

Jumlah siswa yang belajar masih sangat sedikit, hanya sekitar 40 persen dari total 288 siswa. Ini karena rumah-rumah siswa masih ada yang terendam banjir. Dan sebagian masih mengungsi di container-kontainer di dekat rumah mereka. Kalaupun sudah terbebas banjir, seragam sekolah mereka tak ada lagi yang kering. Bahkan banyak peralatan sekolah yang hanyut.

Agar mereka dapat mengikuti KBM seperti biasanya. Kami minta agar para siswa korban banjir, tetap semangat belajar. Karena di balik musibah banjir pasti ada hikmahnya.

Beberapa siswa yang rumahnya di sekitar Kp. Rawamalang dan sekitarnya meski kondisi rumah dan jalan banjir cukup tinggi hingga mencapai lututnya, tetap menerobos dengan semangat. Meski sekali-kali terhuyung dan kadang hampir jatuh, karena dalamnya air dia tetap terus melanjutkan perjalanan ke sekolah yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumahnya itu.

“Sudah enam hari saya tidak masuk sekolah, sejak banjir besar hari Jum’at 18 Januari 2014 lalu, dan baru berangkat hari ini. Sejumlah buku demikian juga dengan seragam, sepatu, dan perangkat sekolah, semua terendam banjir”, ujar salah satu siswa.

Sekolah tidak libur karena guru setiap hari stand by di sekolah menanti kedatangan siswa, namun karena siswa kebanjiran rumahnya dan akses jalan serta sekolah juga terendam sehingga tak ada yang berangkat dan kita memaklumi kondisi ini. Untuk hari pertama masuk ini hanya bersih-bersih dahulu, pelajaran mungkin kita berikan belum maksimal.

Kami guru-guru belum bisa mengajar para siswa dengan maksimal karena saat ini banjir susulan kembali melanda di rumah warga di sekitar Kp. Kesepatan dan sekitarnya, karena kondisi sekolah masih banjir cukup dalam dan saat ini siswa juga masih mengungsi bersama orangtuanya di beberapa tempat pengungsian. Dan kita memakluminya sehingga hanya siswa yang dekat dari sekolahlah yang sekarang masih bisa ikut kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Ratusan korban banjir terutama siswa SDI Darut Tauhid belum bisa kesekolah, karena rumah dan akses jalan masih terendam hampir satu meter dan di dalam rumah mencapai setengah meter.

Kondisi banjir di sekolah sudah surut, namun masih merendam cukup dalam di sejumlah lokasi. Oleh karena itu kita bisa memaklumi bila para siswa mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar dengan Pakaian Seadanya, Ada siswa yang pakai sandal jepit bahkan ada yang bertelanjang kaki saat mengikuti pelajaran.

Alhamdullilah ada beberapa donatur yang memberikan perlengkapan alat tulis kepada seluruh siswa yang terkena dampak banjir berupa 5 buku tulis dan alat tulisnya. Sehingga anak-anak bisa kembali sekolah dan bersemangat walau dalam kondisi bencana banjir. Tetapi kita masih mengharapkan bantuan dari berbagai pihak untuk membantu perlengkapan belajar siswa yang hanyut kena dampak banjir di sekitar rumahnya. Semoga Allah memberikan cobaan ini agar kita lebih dekat kepada Nya . Amin (29/1/2014)

Jumat, 03 Januari 2014

CERITA PERJALANAN SEKOLAH DI MAJALAH TARBAWI




INI ADALAH SEKOLAH SOSIAL, SAMPAI KAPANPUN
Oleh Teni Supriyani
Majalah Tarbawi Edisi 309 Th. 15 Shafar 1435, 12 Desember 2013

Saya tumbuh dan berkembang di Kampung Bedeng ini. Sebuah kampung yang dulunya merupakan tempat pembuangan sampah. Sebuah kampung yang sebagian besar warganya hidup dari memulung. Tak heran, anak-anak daerah sini, jarang sekali ada yang sekolah. Termasuk ketika saya sekolah di SMA dulu, saat itu hitungannya hanya beberapa yang sekolah, bahkan hanya saya sendiri yang menyelesaikan hingga akhir. Itu pun alhamdulillah ada yang mau menampung saya sekolah gratis selama di MTs dan SMA. Sehingga mulai dari sana, saya punya keinginan kuat untuk turun tangan mencari solusi dari kondisi kampung ini.

            Waktu beranjak. tahun 2007, saya baru saja lulus kuliah. Saya ingat betul waktu itu ada banjir yang cukup besar melanda Kampung Bedeng ini. Air setinggi kurang lebih dua meter memaksa warga kampung di sini untuk mengungsi di atas kontainer-kontainer. Beberapa warga meminta saya menghubungi siapa saja yang bisa menolong. Alhamdulillah saat itu ada banyak teman dan lembaga yang akhirnya datang membantu.

Hingga saat banjir mulai menyurut saya terpikir untuk melanjutkan bantuan pasca banjir di bidang yang sudah saya azzam-kan dari dulu. Terlebih ada satu lembaga yang memang rnau memberikan bantuan pendidikan pasca banjir. Cek dan ricek anak usia sekolah, ternyata rata-rata dari mereka sudah tidak bersekolah lagi.

Memang sebelumnya di Kampung Bedeng ini ada sekolah pemulung. Tetapi tiba-tiba saja sekolah itu berhenti tanpa kejelasan. Setelah mengetahui hal itu sebelumnya, saya pun memendam keinginan kuat-kuat, bagaimana caranya bisa menyelamatkan pendidikan di sini. Hingga kejadian banjir ini seakan kembali menyadarkan saya akan itikad tersebut. Hampir seluruh anak di sekitar sini tidak sekolah. Ada yang memang tidak sekolah karena faktor ekonomi, ada yang memang putus sekolah karena sekolah pemulung yang ada sebelumnya lenyap tanpa kabar berita.

Sempat mencari lokasi yang sekiranya layak untuk dijadikan sekolah, alhamdulillah ada tawaran dari madrasah untuk memakai bangunannya. Pagi boleh dipakai untuk aktivitas sekolah dasar (SD), dan baru kemudian kegiatan madrasah di siang harinya. Saat itu masih sederhana sekali, duduknya pun anak-anak masih di lantai. Ada tiga ruang madrasah yang bisa digunakan. Saya pakai itu untuk empat kelas.

Kenapa empat kelas, karena pertama, memang terkait ruangan. Kedua, masalah pengurusan nantinya. Soalnya kalau sampai empat kelas, kita masih ada waktu untuk mempersiapkan izinnya. Maka otomatis anak-anak yang harusnya ada di kelas enam atau di kelas lima, masuk kembali ke kelas empat.

Pertama kali sekolah berjalan, dapat imbas dari sekolah pemuiung yang sebelumnya. Beberapa orang tua ada yang tak percaya. Katanya, dulu ada sekolah juga begitu. Pelan-pelan saya dekati satu per satu orang tua murid. Saya kasih semangat, saya katakan pada mereka bahwa anaknya harus sekolah. Kita buatkan sekolah, beda dari yang sebelumnya, ini sekolah kita bikin baru. Insya Allah kita akan proses sekolahnya dengan pasti, sesuai target. Sehingga perlahan beberapa dari orang ada yang percaya, meski sebagian yang lain ada yang tetap tidak percaya.

Beberapa anak kondisinya memang tidak kita paksakan untuk maksimal dalam belajarnya. Saat itu, anak-anak di sini sudah banyak yang berprofesi sebagai pemulung. Meski begitu, Alhamdulillah saat itu terjaring sekitar 60 anak yang tersebar dalam empat kelas.

Setelah itu, saya koordinasi dengan beberapa rekan. Saya ajak mereka untuk bergabung. Tetapi saya kasih tahu bahwa kita tidak dapat apa-apa di sini. Ini murni niat dakwah. Adapun untuk anak-anak, kita mengharapkan donasi dari orang tua asuh melalui lembaga penyalur dana pendidikan pasca banjir tadi. Alhamdulillah ada tiga orang yang mau bergabung.

Pada dasarnya saya memantau dan seringkali mengajar di kelas-kelas yang ada. Kadang saya mengajar di kelas tiga dan empat. Tetapi saya membina dengan lebih anak-anak kelas empat yang memang akan dipersiapkan untuk mengikuti ujian nasional pada akhirnya nanti. Ada Sembilan orang anak kelas empat. Karakter mereka sungguh bervariasi. Kalau ingat mereka, saya ingat sebuah novel laris yang difilmkan, rasanya mirip sekali.

Bahkan pernah sekali waktu ada orang tua asuh yang mengundang kami untuk nonton film tersebut di bioskop. Sepulangnya, mereka amat antusias. Beberapa dari mereka bahkan meminta saya untuk membuatkan cerita karena katanya sosok di film tersebut mirip dengan mereka. Akhirnya saya membuat cerita, sebuah parodi, Laskar Pelongo. Tak kesulitan saya, karena sebelumnya saya sudah mengajari mereka teater di sela kegiatan sekolah. Parodi ini banyak dipentaskan di berbagai acara. Dipentaskan di sekolah, di acara donasi, lalu di Bantar Gebang pas peresmian sebuah sekolah di sana, bahkan di hadapan bapak Gubernur Jakarta.

Karena kondisi lingkungan yang memang tidak kondusif dari sembilan siswa hanya tujuh yang bertahan sampai kelas enam, hingga ujian nasional SD berlangsung. Dua lagi, ada yang menikah sebelum kelas enam, dan bekerja membantu orang tuanya.

Sambil menjalankan aktivitas mengajar, saya.juga mengurus keperluan untuk izin operasional sekolah. Bagaimanapun, sekolah ini harus diakui. Beberapa tahun saya berjuang dan mengalami penolakan. Bahkan lurah sempat berujar, "Kenapa sih sekolahan di situ, apa tidak ada sekolah lain." Sempat pula katanya, "Kalau pun presiden datang ke situ, kalau saya tidak izinkan tidak bakalan." Berat sih,tapi justru ini semakin memacu saya. Saya upayakan sebisa mungkin, Alhamdulillah pernah datang Fauzi Bowo waktu itu untuk peresmian Mobil Baca, sekalian curhat juga masalah pendidikan di sini. Alhamdulillah dengan datangnya pak Gubernur waktu itu, sekolah dipermudah untuk perizinannya.

Hingga pada tahun keempat, baru sekolah yang diberi nama SDI Darut Tauhid ini mendapat izin operasional. Makanya saat itu untuk lulusan pertama, UASBN-nya masih gabung dengan SD terdekat yaitu SDN Rorotan 02.

Alhamdulillah saat ini sudah lebih baik. Siswa kita sekarang ada 288 orang. Selain SDI Darut Tauhid, ada juga Raudhatul Athfal (Taman Kanak-kanak) yang berlokasi di rumah saya. Ada sekitar 40 anak RA. Selain itu, juga ada MTs yang baru merintis satu kelas. Saya berharap dengan adanya MTs ini, anak-anak lulusan SD bisa tetap melanjutkan sekolah.

Untuk pengajar pun, Alhamdulillah sekarang ada 14 orang yang terlibat, mulai dari guru kelas, guru mata pelajaran, tata usaha, dan penjaga sekolah. Meski begitu, saya sadar bahwa mereka tidak untuk mendapatkan uang dari sini. Mereka sudah mengerti kondisi di sini dari awal. Saat kita rekut, awal masuk kita tekankan bahwa di sini niatnya dakwah. Sehingga mungkin tidak dapat yang diharapkan. Sehingga dari awal mengikhlaskan dirinya untuk mengajar, men-zakat-kan pemikiran dan tenaganya. Setengah gaji itu nanti dibayarin di akhirat. (Tersenyum)

Meski begitu, sampai saat ini masih selalu ada hambatan. Pertama, birokrasi. Karena dari awal pendirian, kita sangat dipersulit unfuk membangun pendidikan. Karena kondisi sosial, kondisi tanah dan lain sebagainya. Daerah sini kan termasuk daerah abu-abu. Selanjutnya adalah kondisi lingkungan. Bagaimanapun, lingkungan berpengaruh besar di sini. Banyak anak yang berhenti. Ketika ketemu dan ditanya,.jawab mereka, "Capek sekolah". Hitungannya kalau mereka nyari besi, nyari botol bekas, lebih menguntungkan buat mereka. Makanya kita juga menekankan ke orang tua pentingnya pendidikan. Dan tugas orang tua lah mencari nafkah. Sebagian orang tua yang mengerti, setelah SD anaknya melanjutkan ke MTs.

Selain itu, memang secara hitung-hitungan, jumlah guru kita sebenarnya sudah pas, tapi tetap merasa kurang, karena beberapa guru ada yang cuti hamil dan lain sebagainya. Mungkin ini yang lebih utama terkait ke masalah finansial. Kelas empat ada 60 siswa, kalau kita tambah satu guru lagi, kita tidak bisa menggajinya sehingga cukup satu guru. Lalu kelas lima ada 50 siswa, cukup 1 orang guru. Kita hanya mengharapkan, kalau sekarang mungkin BOS lah  istilahnya. Itu pun harus menunggu enam bulan. Jadi memang kita jalan apa adanya, semaksimal mungkin.

Sempat merasa pesimis, tapi semua saya kembalikan lagi kepada Allah. Namanya kita bergerak di jalan Allah, pasti ada yang namanya solusinya. Ya pasti ketika guru ada yang kosong dan lain sebagainya yang saya harus ganti berputar beberapa kelas, berkeliling, itu sudah bagian dari permasalahan di pendidikan. Dan saya dari awal sudah tahu konsekuensinya. Saya selalu yakin bahwa siapa yang menolong agama Allah, akan mendapat pertolongan dari-Nya.

Terbukti, meski dengan terseok, Alhamdulillah selalu ada cerita menarik. Termasuk dari perkembangan anak-anak sendiri. Beberapa kali ketika awal berdiri kita belum ada ekstrakulikuler seperti pramuka. Saat itu, saya latih sendiri. Kemudian kita mengikuti sebuah acara besar bertajuk Lintas Budaya Pesisir, Alhamdulillah secara tidak terduga kita menjadi juara satu. Padahal itu masih baru dan banyak sekolah-sekolah, ada sekitar 40 sekolah yang sudah lama, yang maksimal. Beberapa kegiatan juga, seperti lomba dongeng sejabotabek kita dapat juara dua. Atau lomba marathon, lalu lomba silat baru-baru ini, kita tidak menduga bisa juara satu. Padahal hitungannya nasional, bahkan ada peserta dari Malaysia dan Singapura yang ikut juga. Dari tiga kategori kita.iuara 1. Alhamdulillah (Tersenyum)

Saya hanya berharap kedepannya bisa lebih meningkatkan mutu lagi, lebih profesional lagi. Walaupun serba kekurangan, tetap kita coba untuk meningkatkan apa yang kita cita-citakan, apa yang kita impikan. Mimpi saya, yang pertama, saya ingin mencetuskan anak-anak yang bisa berguna baik itu dengan melanjutkan pendidikannya, atau bahkan bisa menjadi orang, sehingga berguna bagi bangsa dan sesama. Lalu ke depannya sekolah ini tetap berdiri walaupun kondisi apapun. Kedepannya kita tetap fokus bahwa ini adalah sekolah sosial, sampai kapanpun. Sekolah sosial yang mengharapkan dan menginginkan anak-anak di sekitar sini bisa tetap sekolah. Dan yang ketiga, saya mengharap perhatian lebih kepada sekolah-sekolah seperti kita, mulai dari pemerintah agar kita difasilitasi untuk mendapatkan bantuan sehingga bisa berkembang lagi.

Seperti yang dituturkan Syarif Abdurrahman kepada Teni Supriyani dari
Majalah Tarbawi di rumahnya, di Kampung Bedeng, Cakung Cilincing, Jakut

Selasa, 12 November 2013

MENGINGAT PERJUANGAN LASKAR PELANGIKU



Ketika menyuruh anak anak MTs Darut Tauhid yang berjumlah 8 orang untuk meringkas buku novel laskar pelangi teringat kembali ketika merintis sekolah SDI Darut Tauhid di tahun 2007 ketika itu banyak anak di sekitar yang tidak sekolah karena ada sekolah pemulung yang tiba-tiba bubar, sehingga rata-rata mereka menganggur tidak sekolah sekitar 1 hingga beberapa tahun. Sehingga tercetus untuk membangun sekolah yang murah bahkan gratis agar anak-anak itu tetap bersekolah. Memang diawal berdiri kita sudah bisa merekruk anak-anak sebanyak 60 siswa agar bisa melanjutkan sekolah dari kelas 1 hingga kelas 4, khusus kelas 4 adalah siswa pertama yang nanti akan lulus sebagai angkatan pertama.

Buku novel dan film laskar pelangi menginspirasi saya untuk mendirikan sekolah dengan segala keterbatasan agar mereka tetap bisa bersekolah. Hampir alur dan cerita yang ada di novel hampir sama, dengan rincian bahkan kita tinggal di sekitar daerah industri di sekitar jalan raya Cakung Cilincing nama daerah kita yaitu Kp.Bedeng yang tidak ada di dalam peta, yaitu daerah kumuh diantara industri sekitar. Jumlah murid kelas 4 saat itu berjumlah 9 anak yaitu Haris, Suhar, Noto, Bayu, Aminah, Warda, Fitri, Fahrizal dan Warno. Disembilan anak itu hampir mewakili karakter dalam novel laskar pelangi bahkan ada yang seperti Harun. Salah satu murid yang berkesan adalah Aminah ketika masuk dikelas 4 sama sekali tidak bisa membaca saya saat itu wali kelas 4 berusaha agar anak-anak seluruhnya bisa membaca. Maka setiap waktu istirahat agar berlatih membaca dibimbing saya tetapi beberapa kali selalu setiap istirahat tidak terlihat disekolah hingga bel berbunyi baru kembali kesekolah. Ketika ditanya mengapa selalu hilang saat disuruh membaca, “saya lebih baik dihukum apa saja asal jangan membaca” aminah menjawab. Tapi itu tidak menurunkan semangat agar ia tetap bisa membaca, 2 tahun kemudian bisa membaca lancar, tetapi diakhir pendidikannya ia harus berhenti karena harus menikah sebelum lulus dari SD. Begitu pula Warno yang seperti tokoh Harun harus berhenti sebelum lulus SD karena membantu bengkel keluarganya.
 


Laskar pelangi menginspirasi anak-anak disaat ada donatur/orang tua asuh membiayai nonton bareng film laskar pelangi di bioskop 21, disaat pulang tercetus untuk membuat drama dengan judul laskar plongo, yang telah banyak dipentaskan dibeberapa tempat diantaranya di bantar gebang, pentas seni anak bahkan dihadapan gubernur waktu itu bapak Fauzi Bowo. Seperti di film laskar pelangi kita juga mendapat juara yang tidak diduga-duga ketika menjuarai kegiatan pramuka dengan menjadi juara 1 lomba lintas budaya pesisir, padahal waktu itu kita baru terdaftar digugus depan pramuka kwartir ranting cilincing. Disaat lomba dihadiri 50an peserta penggalang dari tingkat SD-SMP di sekitar jakarta utara, namun alhamdullilah kita mendapat juara 1 dengan perjuangan latihan mengalahkan sekolah-sekolah lain yang sudah lama. Begitu pula ada yang mengikuti lomba Olimpiade Mipa kita mendapat nilai yang tidak begitu jelek untuk sekolah yang baru berdiri waktu itu.

Di saat waktu meluluskan siswa kelas 6 pertama waktu itu di tahun 2010, anak kelas 6 yang akan lulus ini seluruhnya berasal dari anak-anak putus sekolah karena perekonomian keluarga ataupun karena lainnya. Ada yang tinggal dibawah jembatan, dipinggir kali dan juga dipinggir jalan. Namun bagi mereka pendidikan merupakan bukan hal yang mudah karena bukan hanya jauh tetapi juga kemauan, namun semua hal itu sirna setelah mereka masuk ke SDI Darut Tauhid. Walaupun usia mereka banyak yang diatas umur anak SD pada umumnya tetapi tidak menyurutkan mereka untuk tetap semangat belajar.

Sekolah SDI Darut Tauhid waktu itu belum mendapat izin operasional maka siswa siswi harus ujian menumpang dengan sekolah diwilayah terdekat yaitu sekitar 2 km darisekolah kami yaitu SDN Rorotan 02. Untuk dapat kesekolah tersebut kita harusnaik 2 kali mobil. Bisa juga dengan sepeda, kalau ingin melewati jalan yang terdekat dengan menyebrangi Sungai Cakung Drain lalu memakai getek untuk seberangi sungai dilanjutkan melewati padang ilalang juga hamparan sawah yangcukup panjang dengan jalan becek dan berliku-liku sehingga ketika sampai ketempat ujian pakaian yang tadinya berwarna putih menjadi kecoklatan karena kecipratan lumpur tanah merah. Namun semua yang telah mereka lalui tidak menghalangi mereka untuk tetap semangat untuk mengikuti ujian Negara UASBN waktu itu. Alhamdullilah pada pengumuman kelulusan SD semua murid kami yang berjumlah 7 orang itu seluruhnya lulus 100% dengan nilai UASBN yang tidak mengecewakan
 

Saat ini saya sedang merintis lagi laskar pelangi yang baru di tingkat MTs. Karena banyak lulusan sekolah ini maupun sekitar yang tidak melanjutkan bersekolah dengan alasan ekonomi dan lingkungan, oleh karena itu untuk mensisatinya dengan membangun sekolah lanjutan agar anak-anak tetap bersekolah biaya pendidikan gratis dengan pembiayaan masih subsidi dari BOS SD. Saat ini siswa nya baru berjumlah 8 anak tapi kami yakin bahwa anak-anak ini tetap bersemangat bersekolah agar mereka bisa menggapai cita-cita mereka.

Sekarang sudah 4 tahun berlalu seharusnya mereka sudah berada di kelas 10 SMA, namun dari 7 orang yang lulus dari SD ini tersisa 3 anak yang masih bersekolah yang lain selain faktor ekonomi juga karena faktor lingkungan karena banyak diusia mereka menjadi pekerja, baik itu pemulung maupun sopir. Dari beberapa siswa kita saat ini diusianya telah menjadi sopir jemputan KBN, tukang las, pemulung besi dan pengangguran. Saya sangat berharap dari siswa yang tetap bersekolah bisa melanjutkan melanjutkan kejenjang selanjutnya, seperti para alumni laskar pelangi andrea hirata dkk. Semoga ada anak murid yang bisa menceritakan pengalamannya bersekolah disini dan membuatkan novel yang menggugah anak-anak lain untuk bisa tetap bersekolah dan bersemangat menggapai cita-cita.

Rabu, 30 Oktober 2013

MEMIMPIKAN HALAMAN SEKOLAH YANG RAPIH DAN SEHAT



Sarana dan Prasarana merupakan Elemen penting dari Kegiatan Belajar disekolah terutama sarana halaman sekolah yang bisa digunakan secara optimal untuk kegiatan upacara, baris berbaris, olah raga, sarana bermain, parkir dan kegiatan lainnya. Hingga saat ini SDI Darut Tauhid sudah mempunyai sarana gedung diantaranya ruang kelas sebanyak 7 lokal, perpustakakan, lab komputer, UKS, ruang guru dan kepsek yang hampir 90% pendanaannya dari Donatur. Namun hingga saat ini halaman sekolah yang mempunyai luas 500 m2 hingga saat ini belum di plur atau di konblok hingga saat ini belum optimal digunakan untuk kegiatan sekolah, sehingga lapangan belum bisa di gunakan untuk lapangan olahraga atau kegiatan ekskul terutama silat dan pramuka. Kegiatan olah raga di halaman mengakibatkan ketika hujan maka akan tergenang dan disaat musim kering menimbulkan debu, sehingga beberapa siswa dan guru terkena penyakit pernafasan terutama penyakit TBC dan Flek. Sehingga di khawatirkan korban akan terus bertambah. Oleh karena itu kami sangat memimpikan halaman yang rapih dan sehat

SDI Darut Tauhid saat ini mempunyai jumlah siswa sebanyak 288 anak dengan seluruhnya biaya pendidikan gratis karena hampir seluruhnya dhuafa, sekolah ini mempunyai luas lahan seluas 1600 m² dengan luas bangunan kurang lebih seluas 600 m2 dan Luas halaman Sekolah kurang lebih kurang 500 meter, struktur tanah halamaini`n sekolah saat belum rata dan berumput liar, air hujan sering menggenang di beberapa titik pada halaman tersebut karena tanah dan saluran airnya belum ditata rapi. Dalam rangka menciptakan suasana nyaman dan indah halaman Sekolah, Dewan Guru SDI DT akan melaksanakan kegiatan yaitu Perataan tanah, mengatur kemiringan tanah, dan membuat saluran/selokan air agar air hujan di halaman Sekolah lancar mengalir ke saluran tersebut dan seluruh halaman yang kurang rapi tersebut akan ditutup dengan konblok, pembangunan sarana olah raga dan upacara seperti lapangan futsal, voli, bulutangkis dan lain-lain untuk kegiatan belajar mengajar siswa dan guru. Dan halaman yang dikonblok dan membuat saluran/selokan air tersebut, selain untuk mempercantik penampilan halaman sekolah juga akan memberi kenyamanan siswa ketika berkunjung dan berolah raga. Program tersebut akan berjalan dengan baik jika kita memiliki dana dan kerjasama yang kuat.

 
Untuk merealisasikan bangunan yang kami rencanakan, kami membutuhkan dana sebesar Rp. 41.550.000,- (empat puluh satu juta lima ratus lima puluh ribu rupiah), dari para donatur dan muzaki. Dengan rincian pengeluaran yaitu :

NO
JENIS BARANG
VOLUME
HARGA SATUAN
JUMLAH
1
Konblok second
500 m2
Rp.        40.000,-
Rp.        20.000.000,-
2
Pasir
25 Kubik
Rp.      150.000,-
Rp.          3.750.000,-
3
Tukang borongan
500 m2
Rp.        12.000,-
Rp.          6.000.000,-
4
Tukang harian
10 hari
Rp.      170.000,-
Rp.          1.700.000,-
5
Tanah urugan
5 rit
Rp.      300.000,-
Rp.          1.500.000,-
6
Batu merah
2000 bh
Rp.             400,-
Rp.             800.000,-
7
Semen
25 sak
Rp.         65.000,-
Rp.          1.625.000,-
8
Besi untuk selokan
40 m
Rp.         60.000,-
Rp.          2.400.000,-
9
Lain-lain


Rp.          3.775.000,-
Jumlah
 Rp        41.550.000,-

 Saat ini kami mempunyai modal sebanyak 10 juta rupiah yang digunakan untuk membeli konblok second seluas 250 m2. sehingga kita membutuhkan sekitar 30 jutaan rupiah lagi untuk menutupi kegiatan konblok halaman sekolah

 Untuk mewujudkan hal tersebut, para muzaki atau donatur yang membaca tulisan ini dapat kiranya memberikan bantuan dana atau materiel agar kegiatan pembangunan konblok halaman sekolah dapat terlaksana dengan baik. Sesuai dengan hadits Rosullulah bahwa :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ: « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ » رواه مسلم.
            Dari Abu Hurairah bahwa sungguh Rasulullah  telah bersabda: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya”

                 Para Muzaki atau donatur bisa datang langsung atau memberikan donasi ke rekening Bank DKI Capem KBN No. Rek 20912000015 atas nama sdi darut tauhid atau Bank Syariah Mandiri Tanjung Priuk No. Rek. 7003593139 atas nama Sarip Abdul Rohman. Karena itulah kami selaku dewan guru SDI Darut Tauhid memimpikan halaman sekolah yang rapih juga sehat dengan dikonblok. Agar sekolah yang telah ada di daerah ini dapat berfungsi secara optimal dan berguna bagi siswa dan masyarakat di sekitar.